Minggu, 22 September 2013

Home » » [review] Metro Last Light

[review] Metro Last Light

By Pladidus Santoso
May 30, 2013   ·   
 
 

Sebuah dunia yang tidak mampu lagi dihuni karena kesalahan manusia tampaknya menjadi skenario paling masuk akal bagaimana hidup manusia sebagai sebuah ras akan berakhir. Beragam judul dari industri hiburan juga seringkali menjadikanya sebagai jalur cerita utama yang didesain sedemikian rupa, termasuk industri game. Untuk urusan yang terakhir ini, franchise Metro dari 4A Games boleh terbilang lahir sebagai yang paling memesona. Tidak hanya membangun akar yang kuat di sisi cerita, langkah awal yang dimulai dari Metro 2033 ini juga diakui sebagai salah satu game dengan kualitas visualisasi terbaik, bahkan sempat menaklukkan PC-PC terkuat di masanya kala itu. Antispasi terhadap seri terbarunya – Metro: Last Light kian menguat.

Luar biasa, ini tampaknya menjadi kata yang paling tepat untuk menggambarkan kesan pertama yang ditawarkan oleh seri teranyar yang satu ini. Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tentu saja sudah sempat mendapatkan sedikit gambaran tentang apa yang kami bicarakan. Salah satu nilai jual utama yang tidak terbantahkan tentu saja kualitas grafis yang bahkan membuat rig terkuat kami berteriak kesakitan. Namun Metro: Last Light menawarkan lebih banyak pesona daripada sekedar visualisasi mumpuni. Ada beragam pesona lainnya yang

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarka oleh Metro: Last Light ini? Apa yang membuat kami menyebutnya sebagai sebuah dunia post-apocalyptic yang luar biasa?

Plot

Pertempuran terakhir di Metro 2033 memang telah “memusnahkan” The Dark Ones, namun tidak lantas memberikan kedamaian abadi bagi sang karakter utama – Artyom
Perselisihan melawan para The Dark Ones yang dilihat sebagai ancaman terbesar di Metro 2033 memang mencapai sebuah kesimpulan akhir yang destruktif. Serangan misil yang dilakukan dianggap telah berhasil menghancurkan semua makhluk misterius yang satu ini, sekaligus mengembalikan sedikit kedamaian untuk kehidupan sang karakter utama – Artyom. Sebuah nafas lega yang tidak berlangsung lama.

Hadir sebuah sekuel langsung, Metro: Last Light bersettingkan satu tahun setelah event terakhir di 2033. Artyom, yang kini bergabung di dalam The Rangers dan hidup di dalam fasilitas militer penting – D6, masih terus dihantui oleh mimpi The Dark Ones, yang kini seolah berupaya menyampaikan sesuatu untuknya. Tapi bukankah eksisteksi makhluk aneh yang satu ini sudah berakhir? Setidaknya tidak di mata Khan. Berbeda dengan pendapat yang lain, Khan yang percaya masih ada satu Dark One yang masih selamat justru melihat ras ini sebagai masa depan, dan bukannya ancaman. Usaha untuk mencari dan menyelamatkan satu-satunya Dark One yang tersisa ini tentu saja ditolak oleh pihak militer. Artyom pun ditugaskan untuk memburu yang selamat ini.

Berbeda dengan persepsi umum yang ada, Khan justru meyakini The Dark Ones sebagai kunci bagi masa depan manusia. Lewat satu Dark One yang ia yakini selamat, usaha untuk mencari jawaban pun dimulai.
Namun sebuah misi pembunuhan sederhana menjadi lubang yang lebih kompleks bagi Artyom. Tidak hanya tertangkap oleh Nazi Reich, ia juga masuk dalam pusaran kudeta yang berusaha dilakukan tentara Russia.
Satu-satunya The Dark One kecil yang masih selamat. Apa yang sebenarnya berusaha ia capai dengan membantu Artyom?
Namun siapa yang menyangka, bahwa The Dark One yang selama ini ternyata bukan yang selama ia prediksikan. Masih kecil dan terlihat tidak berbahaya, Artyom justru terjebak dalam perang melawan para pasukan Nazi dan masuk ke dalam konspirasi kudeta yang tengah dilancarkan oleh salah satu petinggi Russia sendiri. Mempelajari usaha salah satu Jenderal tentara merah – Korbut yang berusaha menguasai fasilitas militer D6 dan mengendalikan Metro, Artyom mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Anehnya lagi? The Dark One kecil yang berhasil selamat ini justru menjadi comrade setia yang membantunya mengatasi para pasukan dan mutant yang tidak segan menghabisi nyawa Artyom dengan sekejap.

Gelap, misterius, dan menyeramkan – Artyom akan terlibat dalam petualangan yang jauh lebih gila dibandingkan 2033.
Lantas, mampukah Artyom mencegah kudeta dan rencana buruk yang tengah dilancarkan oleh Korbut ini? Apa yang sebenarnya yang dicari oleh The Dark One kecil ini? Misteri apa yang sebenarnya tersimpan di dalam D6? Mampukah Metro selamat dari konflik yang satu ini? Semua jawaban dari pertanyaan ini akan dapat Anda temukan dengan memainkan Metro: Last Light ini.

Bertahan Hidup di Dunia Post-Apocalyptic yang Memesona!

Sebagai sebuah game FPS, tidak ada inovasi yang membuat Last Light berbeda dibandingkan dengan game bergenre sama lainnya di pasaran.
Mempertahankan akarnya sebagai sebuah game FPS, hampir tidak ada inovasi yang bisa diperhatikan dari Metro: Last Light dari sisi mekanik gameplay yang ditawarkan. Anda hanya harus bergerak dari satu titik ke titik lainnya, sembari berusaha bertahan hidup. Tidak ada kewajiban untuk melakukan konfrontasi secara langsung dengan semua ancaman yang berada di depan mata, terutama ketika berhadapan dengan manusia bersenjata. Anda bisa melakukan infiltrasi dan bergerak menuju ke tempat tujuan tanpa harus membunuh siapapun, atau memilih bermain secara stealth – sekedar melumpuhkan atau menghabisi nyawa mereka. Perang secara terbuka memang memacu adrenalin, namun menghasilkan resiko yang lebih besar, apalagi mengingat jumlah peluru yang terbatas.

Tidak hanya berhadapan dengan pasukan Red Line maupun Nazi yang memburu Anda untuk agenda masing-masing mereka, Anda juga tetap harus bertempur melawan serangkaian makhluk mutasi yang menghinggapi dunia luar yang berbahaya. Berbeda dengan manusia yang mampu menyerang Anda dari jarak jauh, sebagian besar makhluk ini akan memberikan tantangan lewat serangan jarak dekat, dan tentu saja lewat kuantitas mereka yang masif. Lebih mampu menghadirkan tekanan psikologis karena panik, ketenangan dan beberapa peluru shotgun akan membantu Anda akan menjadi jawaban terbaik. Metro: Last Light juga menyuntikkan beberapa “boss fight” untuk kian memuaskan suasana.

Daripada memulai konfrontasi secara terbuka, gaya permainan stealth untuk sekedar melakukan infiltrasi atau menundukkan setiap ancaman yang ada menjadi gaya bermain yang lebih dapat diandalkan.
Dengan dunia luar yang dipenuhi debu dan radiasi nuklir, Artyom harus mengenakan masker gas untuk dapat bertahan hidup. Mengumpulkan filter dan mencari penggantinya ketika mulai rusak menjadi kebutuhan krusial.
Anda juga akan terlibat dalam berbagai boss fight yang menantang.
Namun bagian terbaik dari Metro: Last Light adalah konsistensi 4A Games untuk menjadikan kondisi dunia post-apocalyptic ini serealistis mungkin. Tidak hanya sekedar dibekali senjata, Anda juga akan dibekali dengan beberapa perangkat dasar untuk bertahan hidup, dari sebuah lighter berbentuk peluru, kompas dan peta, hingga topeng gas yang memainkan perang paling krusial. Dengan debu nuklir dan radiasi yang masih mengotori dunia luar, Anda memang harus bergantung pada topeng yang satu ini untuk dapat bertahan hidup. Lewat sebuah jam real-time yang tertera di pergelangan tangan kiri Anda, Anda bisa melihat berapa banyak waktu yang disediakan oleh filter masker Anda. Habis dan tanpa pengganti, maka Anda akan tewas karena sesak napas. Tidak hanya filter, setiap masker gas ini juga memiliki daya tahan tertentu. Rusak karena seringkali diserang juga akan menghasilkan efek yang sama.

Jika ada satu kalimat yang bisa menggambarkan masyarakat yang terbentuk dari franchise Metro selama ini, maka “obsesi terhadap peluru” mungkin menjadi kata yang paling tepat. Tidak hanya lighter Anda yang berbentuk peluru, keterbatasan sumber daya yang satu ini juga memaksa Anda untuk menjalani pertempuran terbuka dengan jauh lebih efektif. Bagian terbaiknya? Peluru-peluru ini bahkan diposisikan sebagai mata uang di dunia Metro: Last Light. Peluru berkualitas tinggi yang langka ini akan menjadi daya tarik transaksi, tidak hanya ketika Anda membeli item-item untuk bertahan hidup, atau sekedar peluru, tetapi juga melakukan modifikasi untuk memperkuat senjata-senjata utama yang tengah Anda bawa.

Dengan menjadi peluru kualitas tinggi sebagai mata uang, Anda tidak hanya bisa berbelanja item-item untuk bertahan hidup, tetapi juga memperkuat senjata Anda dengan segudang upgrade yang ada.
A 4-barrels shotgun? Eat that!
Konflik perang melawan para mutant dan pasukan bersenjata tentu saja menjadi bumbu super manis untuk menikmati game yang satu ini. Anda akan dibawa untuk terlibat dalam sebuah dunia penuh kehancuran yang memesona.
Berbeda dengan sebagian besar game bertema sama yang mungkin merepresentasikan dunia post-apocalyptic dari sekedar desain lingkungan yang ditawarkan, Metro: Last Light mengintegrasikannya ke dalam sisi gameplay – terutama lewat mekanisme topeng gas dan peluru sebagai mata uang yang berharga. Konflik perang melawan para mutant dan pasukan bersenjata tentu saja menjadi bumbu super manis untuk menikmati game yang satu ini. Anda akan dibawa untuk terlibat dalam sebuah dunia penuh kehancuran yang memesona.

Sistem Moralitas yang Tersembunyi

Salah satu fitur Metro Last Light yang paling menarik? Fakta bahwa game yang satu ini ternyata memuat sistem moralitas yang tersembunyi.
Kesempatan untuk tumbuh bersama dengan karakter utama memang akan membantu gamer membangun keterikatan emosional dengan game yang mereka mainkan, sebuah konsep yang memang tidak asing lagi di industri game. Beberapa game RPG Barat bahkan secara terang-terangan memberikan kebebasan untuk menentukan moralitas sang karakter utama lewat serangkaian pilihan dan konskuensi yang ada. Sebuah konsep yang juga ternyata diterapkan oleh 4A Games secara “tersembunyi” di dalam Metro: Last Light yang satu ini. Sebuah “rahasia” yang mungkin tidak diketahui oleh sebagian besar gamer yang bahkan sudah menyelesaikannya dalam waktu singkat
.
Terselubung sempurna dalam keseluruhan gameplay yang Anda mainkan, 4A Games memang tidak secara jelas memperlihatkan opsi dan misi apa saja yang akan mempengaruhi tingkat moralitas dari karakter Arytom yang tengah Anda gunakan. Diintegrasikan dalam gameplay dengan begitu tersembunyi, beberapa dari aksi dan misi ini bahkan tidak terlihat signifikan. Ia bahkan tidak memuat indikator jelas untuk mengindakasikan apapun. Anda mungkin akan secara tidak sengaja bertemu dengan NPC yang tengah tertangkap dan menyelamatkannya, atau mengembalikan sebuah boneka beruang untuk anak kecil, atau sekedar meaminkan sebuah alat musik. Namun siapa yang menyangka bahwa semua tindakan ini  ternyata memiliki konsekuensi moralitas tersendiri.

Terintegrasi secara sempurna dan tersembunyi di dalam gameplay, hal-hal kecil yang Anda lakukan di sepanjang permainan akan menentukan seberapa baik moral sosok Artyom sendiri. Hal kecil seperti apa? Menembak pergi pemangsa yang tengah mengerubungi “makanan” seperti gambar ini, contohnya.
Lantas apa konsekuensi dari sistem moral ini? Percaya atau tidak, Last Light memiliki dua ending berbeda – good dan bad. Mereka yang tidak berhasil meraih moralitas yang baik lewat quest dan pengambilan keputusan yang ada akan mendapatkan ending buruk, dan begitu juga sebaliknya.
Ada beberapa misi kecil, acak, dan tindakan yang akan membentuk Arytom ke arah sisi moral yang baik, termasuk menginfiltrasi beberapa misi tanpa membunuh siapapun atau apapun, mendengarkan cerita NPC yang ada, hingga memberikan peluru berharga Anda untuk pengemis di salah satu kota. Lantas konsekuensi apa yang membuat semua “side quest” yang satu ini menarik untuk dikejar? Fakta bahwa Metro Last Light ternyata memiliki dua ending yang berbeda. Mengacuhkan sebagian besar misi ini, maka Anda kemungkinkan besar akan mendapatkan bad ending untuk Metro: Last Light. Berhasil menyelesaikan sebagian besar darinya, maka Anda akan mendapatkan akhir cerita dari pertempuran post-apocalyptic ini yang sebenarnya.

Why You Should Play it On PC?

Dengan kualitas visualisasi yang ia tawarkan, cara terbaik untuk menikmati Metro Last Light dengan maksimal = memainkannya di rig PC terkuat Anda.
Look at that details!
Walaupun dirilis secara multiplatform, termasuk untuk dua konsol generasi saat ini – Xbox 360 dan Playstation 3, Metro: Last Light memang didesain dan dibangun untuk dimainkan di platform yang jauh lebih kuat – PC. Untuk sebuah game yang bahkan mampu membuat GeForce GTX Titan untuk kelimpungan memainkannya di setting paling maksimal dan framerate paling nyaman, kualitas visualisasi yang ditawarkan oleh game yang satu ini memang menjadi salah satu nilai jual yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Memainkannya di Xbox 360 dan Playstation 3? Anda baru saja melewatkan kesempatan untuk menikmati game FPS action dengan kualitas grafis terbaik di pasaran saat ini, selain kenyamanan FPS yang tentu saja lebih nyaman dimainkan dengan menggunakan keyboard dan mouse.

Kesimpulan

Metro: Last Light berhasil memperlihatkan sebuah daya tarik yang memesona, setidaknya mampu melanjutkan obor perjuangan seri sebelumnya – Metro 2033, tidak hanya sebagai game dengan tingkat visualisasi terbaik saat dirilis, tetapi juga salah satu representasi dunia post-apocalyptic yang memesona dan menggugah
Sebuah keindahan dalam sebuah dunia yang hancur dan hening, ini mungkin menjadi kesan pertama yang Anda dapatkan dari Metro: Last Light ini. 4A Engine yang diusung mampu memfasilitasi kebutuhan 4A Game s untuk membangun setting post-apocalyptic yang benar-benar memanjakan mata, tidak hanya di tingkat detail, tetapi juga dari desainnya sendiri. Penuh puing dan gelimpangan mayat, setiap area yang Anda jelajahi seolah memuat memori uniknya masing-masing. Fakta bahwa kehancuran ini dapat diintegrasikan di sisi gameplay yang menjadikan masker gas dan peluru sebagai sumber daya yang krusial juga menjadi point plus yang pantas untuk diacungi jempol. Walaupun tidak ada inovasi berarti di sisi gameplaynya sebagai sebuah game FPS, selain tentu saja senjata-senjata unik yang menarik, kebebasan dan kecenderungan untuk menempuh jalur bermain stealth di beberapa level menghadirkan juga menawarkan daya tarik tersendiri.

Lantas apakah ini berarti Metro Last Light hadir tanpa kelemahan? Sayangnya ada beberapa kekurangan yang pantas untuk dicatat. Terlepas dari visualisasinya yang memesona, animasi gerak dan voice acts yang ditawarkan terdengar tidak sepadan dan kaku. Apalagi ketika Anda mendengar suara Arytom di setiap pergantian chapter yang ada. Kelemahan fatal kedua? Fakta bahwa 4A Games menjadikan Ranger Mode – tingkat kesulitan Metro Last Light sebagai sebuah DLC terpisah yang tidak bisa didapatkan dengan cara apapun selain membelinya secara langsung juga menjadi pukulan telak. Ekstra uang untuk sebuah tingkat kesulitan baru? Bukan rencana bisnis yang cerdas.

Namun terlepas dari kekurangan ini, Metro: Last Light berhasil memperlihatkan sebuah daya tarik yang memesona, setidaknya mampu melanjutkan obor perjuangan seri sebelumnya – Metro 2033, tidak hanya sebagai game dengan tingkat visualisasi terbaik saat dirilis, tetapi juga salah satu representasi dunia post-apocalyptic yang memesona dan menggugah. Absolutely, worth to play!

Kelebihan

Dunia post-apocalyptic yang begitu memanjakan mata.
  • Visualisasi yang luar biasa
  • Dunia post-apocalyptic yang berpengaruh pada sisi eksplorasi
  • Desain beberapa senjata yang unik
  • Sistem moralitas yang terintegrasi
  • Multiple ending
  • Plot yang keren

Kekurangan

Sayangnya hal ini tidak dipadu-padankan dengan kualitas animasi gerakan dan voice acts yang kuat.
  • Animasi karakter yang terasa kaku
  • Voice Acts yang kurang kuat
  • Ranger Mode yang hadir sebagai DLC
Cocok untuk gamer: yang sudah memainkan Metro 2033 sebelumnya, yang membutuhkan game FPS berkualitas, yang memiliki PC kuat yang butuh tantangan

Tidak cocok untuk gamer: yang butuh game FPS dengan dramatisasi epik, yang butuh mode ekstra untuk ekstra tantangan
 
sumber : http://jagatplay.com/2013/05/pc-2/review-metro-last-light-konflik-post-apocalyptic-yang-memesona/

0 komentar :

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys