Rabu, 01 Agustus 2012

Home » » [review] Max Payne 3

[review] Max Payne 3

Inilah kembalinya jagoan paling badass, Max Payne dalam game terbarunya, Max Payne 3. Kita akan melihat Max kembali melakukan hal yang paling jago dilakukannya: menembaki lawan dalam bullet time dan menjadi seorang one man army melawan pasukan musuh.


Max telah menjadi "Fat Bald Dude"

Berhubung Max tidak lagi muda, kali ini dia sudah tidak sekeren dulu, malah kita akan melihat dia sebagai seorang "Fat Bald Dude With A Bad Temper". Namun hal ini tidak mengurangi jagonya Max dalam membantai para lawan dalam sebuah kisah panjang perjalanan Max sebagai bodyguard keluarga Brazil yang dikemas dalam nuansa noir, di mana Max sangat suka melakukan monolog.

Tampil sedikit berbeda, Max sepanjang cerita akan menenggak berbagai minuman keras dan obat-obatan. Efek dari minum-minum ini diperlihatkan dalam seluruh cutscene yang sengaja dibuat berdistorsi. Hal ini untuk menunjukkan bagaimana kacaunya kehidupan Max akibat minuman keras dan obat-obatan, namun berefek samping mengganggu kita sebagai yang melihat layar tersebut, termasuk ketika Max menenggak obat yang menimbulkan efek yang sama.


Kita tetap bisa memainkan Max sewaktu belum menjadi "Fat Bald Dude"

Kalau boleh dibilang, Max Payne 3 meskipun dihitung sebagai sebuah game third-person shooter, namun sepertinya lebih pantas disebut sebagai sebuah cinematic action game. Transisi dari cutscene ke adegan tembak-tembakan sangat mulus, bagaikan menonton sebuah film yang diiringi dengan adegan interaktif. Adegan juga akan sedikit berubah tergantung senjata yang sedang dibawa oleh Max.

Dari sisi gameplay, Max tetap bisa melakukan tembak-tembakan menggunakan Bullet Time, baik secara normal maupun sambil melakukan shootdodge. Kita bisa melakukan aiming dengan tiga pilihan: free aim, soft lock ataupun hard lock. Bagi pemain casual, hard lock / soft lock sangatlah membantu aiming, sementara bagi para purist, free aim adalah pilihan yang tepat.


Bagaikan movie, Max akan diclose-up sewaktu menembak musuh terakhir

Meskipun kita sedang tembak-tembakan, Max Payne 3 senantiasa tampil dengan gaya sebuah movie. Ketika kita membunuh lawan terakhir pada adegan tersebut, maka akan diperlihatkan angle Max sedang gaya menembak dengan keren, dan kill camera yang menunjukkan bagaimana sang lawan roboh ditembus peluru oleh Max.

Yang menjadi sedikit masalah adalah tidak hadirnya sebuah "map" yang menunjukkan posisi kita, sehingga terkadang kita akan kesulitan mencari jalan keluar, ataupun mencari tahu kemana seharusnya kita melangkah. Tapi mungkin ini hanyalah masalah karena kita sudah terbiasa ditunjukkan harus jalan kemana oleh game-game shooter lain.


Killcam 

Sebagai sebuah game dengan rating "M", kita sebagai Max Payne bisa melakukan berbagai hal brutal pada lawan dengan efek-efek yang penuh darah. Kita bisa melakukan melee attack yang diakhiri dengan eksekusi headshot, bisa menembaki lawan bertubi-tubi sampai darah muncrat kemana-mana dengan killcam memberikan view jarak dekat, sampai bahkan dengan bebas membunuh civilians.

Selain itu, game Max Payne 3 juga termasuk berani dengan memperlihatkan adegan kekerasan pada wanita sampai terlihat benar-benar hancur. Yang pasti, Max Payne 3 bukan untuk anak-anak, apalagi Max sempat mengunjungi sebuah strip club lengkap dengan penari wanita yang tidak mengenakan penutup dada.


Bergelantungan dan menembaki musuh bagaikan Hollywood action movie

Setelah menyelesaikan story mode, kita bisa mencoba mode lain, yaitu sebuah Arcade Mode dan sebuah Multiplayer Mode. Pada Arcade Mode, kita bisa memilih antara Score Attack ataupun New York Minutes Mode (yang boleh juga disebut Time Attack).


Arcade Mode: Score Attack

Baru untuk Max Payne 3 adalah mode Multiplayer. Multiplayer di game Max Payne?!? Untungnya, mode multiplayer ini bukanlah mode asal buat, melainkan juga menggunakan fitur Max Payne yaitu Bullet Time. Kita bahkan bisa mengkustomisasi avatar kita dengan banyak pilihan.


Kita juga bisa mengkustomisasi karakter pada multiplayer

Mode multiplayer yang disediakan selain Deathmatch dan Team Deathmatch, ada juga Gang Wars, di mana Rockstar menggunakan story mode dan ceritanya bisa berubah tergantung dari siapa yang menang, serta Payne Killer, yang dimainkan mirip dengan Tag, di mana jika kita membunuh pemain yang menjadi Max (atau tokoh utama lain), maka kita akan menjadi Max, dan semua pemain lain mencoba membunuh kita.

Secara garis besar, Max Payne 3 tidak mengecewakan. Mulai dari grafis yang realistik, voice acting yang sekelas aktor Hollywood, serta lagu yang menawan membuat pengalaman menonton memainkan Max Payne 3 tidak terlupakan.

Editor's Tilt - 9,0
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Max Payne 3 lebih terasa bagaikan menonton film action bergaya noir dengan adegan tembak-tembakan yang kita kendalikan. Memang ceritanya cukup pendek, hanya 8 jam, tapi wow, benar-benar 8 jam yang seru bagaikan menonton film action noir.


Max Payne tetap badass

Satu hal yang menurut saya pribadi agak mengurangi kenikmatan menonton memainkan adalah kecilnya font dari subtitle yang ditampilkan. Jadi kalau ada gangguan suara dari luar, kita akan sedikit kesulitan membaca ceritanya. (ZBT)

VGI Ratings for Max Payne 3

9,0 Gameplay Tembak-tembakan yang fun dan keren di tambah dengan transisi dari cutscene ke gameplay memaksa kita selalu bersiap dengan controller di tangan.
8,8 Graphic Tampil bagaikan film Hollywood yang sadis dan penuh darah, dengan animasi yang berubah sesuai dengan keadaan. Sayangnya tampilan sedikit terganggu dengan berbagai distorsi yang disengaja.
9,0 Sound Voice acting dan lagu yang sangat berkelas menunjukkan bahwa Rockstar sangat serius dalam membuat Max Payne 3.
8,0 Longevity Selain cerita utama 8 jam, kita juga bisa menikmati arcade mode dan multiplayer mode yang fun serta mengoleksi golden gun yang tersebar di seluruh level.
8,7 Awesome
Overall
 
sumber : http://www.videogamesindonesia.com/reviews/max-payne-3.php

0 komentar :

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys