Sabtu, 21 Desember 2013

Home » » [review] Batman : Arkham Origins

[review] Batman : Arkham Origins

Batman: Arkham Origins

Pandangan skeptis berganti jadi harapan. Kiranya itulah apa yang telah dialami Batman semenjak pertama kalinya memulai sepak terjang dalam Batman: Arkham Asylum tahun 2009 silam. Anggapan akan adaptasi video game bertema superhero yang konon kerap menuai cela, seolah langsung ditebus dengan debut judul ini. Prestasi yang demikian tentu tak lepas halnya dari andil Rocksteady Studios yang merupakan tim sukses di baliknya. Selepas keberhasilan judul pertamanya, Rocksteady pun berlanjut dengan sekuel yang dijudulinya Batman: Arkham City. Rilis 2011 lalu, entri ini tetap mencatat sukses dan sambutan positif.

Berturut-turut memetik hasil, Warner Bros. Interactive Entertainment jelas menyadari potensi yang dimiliki franchise Batman: Arkham. Mereka pun kontan mempersiapkan satu lagi judul yang diinginkan para fans. Namun, ada yang berbeda untuk kali ini. Rocksteady resmi dinyatakan tak ambil bagian dalam pengembangan terbaru ini dan menyerahkan tangkup pembuatannya pada Warner Bros. Games Montreal (WB Montreal), tim asal Kanada yang sebelumnya pernah mengerjakan versi Wii U Arkham City. Tidak sepenuhnya berarti lepas, Rocksteady masih berperan dengan memberi masukan atas sistematis in-game-nya, meski aspek cerita telah seutuhnya berada pada tangan WB Montreal. Dengan tim baru, seperti apakah jadinya persembahan baru yang dinamai Batman: Arkham Origins ini?


Berbeda dari dua judul lalu, Arkham Origins berkisah dengan latar kejadian yang punya peranan sebuah prekuel. Apabila para penyuka komik sempat membaca Batman: Year One sebagai cerita yang mengenalkan masa-masa permulaan Batman berkiprah, setting waktu yang mirip pun tampak digunakan WB Montreal dengan game ini. Lima tahun sebelum Arkham Asylum, Bruce Wayne digambarkan masih seorang Batman muda yang belum terasah dan tanpa pengalaman. Keberadaannya di Gotham bahkan belum dipandang baik oleh James Gordon (yang masih berpangkat Captain) dan GCPD (Gotham City Police Department). Seiring ceritanya, Arkham Origins akan memperlihatkan ‘perkenalan’ Batman dengan tokoh-tokoh ikonik yang kelak menjadi musuh bebuyutannya, dimana esensi ini tentunya merupakan salah satu daya tarik tersendiri di mata para pecinta sang Dark Knight.

Cerita Arkham Origins dibuka dengan sebuah kekacauan yang melanda Blackgate Prison pada malam Natal. Batman, yang tak tinggal diam melihatnya, datang dan mendapati aksi itu didalangi seorang gembong kriminal berjuluk Black Mask. Sang penjahat ternyata sudah merencanakan suatu perburuan berhadiah atas Batman. Barangsiapa dapat menghabisinya pada malam ini, maka ia akan memenangkan uang hadiah senilai $50 juta. Alhasil, para assassin handal pun berkumpul demi memperebutkan imbalan yang dijanjikan.


Tak diragukan, gameplay adalah aspek yang membuat seri Batman: Arkham begitu dicintai para gamer. Dengan standar yang ditorehkan kedua pendahulunya, membuat ekspektasi akan Arkham Origins tetaplah satu yang terhitung tinggi. Namun, pergantian tim seolah memang menanamkan pandangan skeptis terhadap WB Montreal selaku eksekutor barunya. Dengan pertimbangan yang demikian, maka bukan sesuatu yang mengherankan apabila ternyata Arkham Origins benar-benar mencoba untuk tetap mempertahankan sejumlah formula yang membuat gameplay-nya besar. Bahkan, memang dapat dikatakan identik menyoal sistemnya secara garis besar, tanpa improvisasi yang terlalu berarti. Sesuatu yang tidaklah sepositif waktu transisi Arkham City dari Arkham Asylum.


Meski seperti itu adanya, hal tersebut pun tampak tidak mengubah game ini sendiri sebagai sesuatu yang tetap menyenangkan dari sisi gameplay. Arkham Origins pada hakekatnya masihlah sebuah pengalaman menjadi Batman yang otentik dalam format game. Dan konteks sedemikian rupa tentu tak lepas dari sistem Freeflow Combat yang kembali di sini. Porsi combat yang menggambarkan penguasaan bela diri Bruce Wayne, dirancang dengan feel yang dinamis secara pergerakan dan tombol yang terbilang simpel. Mudah dilakukan, namun juga tidak berarti sepenuhnya mudah dikuasai lantaran lawan yang kerap menyerang secara berkelompok. Ditambah lagi, counter kali ini terasa agak lebih membutuhkan ketepatan timing dibanding sebelumnya. Sebagai tambahan baru, Batman kini mampu melakukan serangan combo dengan Shock Gloves di samping dari sejumlah gadget lain yang masih dapat dimanfaatkan untuk melumpuhkan lawan.

Setting bernuansa open-world yang luas seperti dalam Arkham City, pun tetap disajikan untuk mendukung sisi eksplorasi pada game ini. Kota Gotham yang dibagi ke dalam beberapa distrik dapat Batman jelajahi untuk menemukan pelosok-pelosok lokasi yang menjadi objectives, dengan menyertakan kembali banyaknya misi sampingan dan sejumlah hal opsional lain yang juga dapat diselesaikan. Dengan menyelesaikannya, gamers akan memperoleh experience points yang dibutuhkan untuk melakukan upgrade berbagai kemampuan dan gadget milik Batman. Gadget sebagian besar di antaranya masih sama seperti apa yang ada sebelumnya.


Untuk membantu eksplorasi pada lokasi-lokasi kali ini, Arkham Origins bahkan memfasilitasi fast travel dengan Batwing sebagai salah satu fitur baru yang diperkenalkan. Tidak hanya mempersingkat waktu, tapi juga menjadikan akses menuju objective lebih mudah dilakukan mengingat luasnya setting ini. Di samping itu, judul ini turut menyertakan Batcave sebagai hub yang dapat dikunjungi untuk mengakses beberapa hal, seperti mengganti kostum dan melakukan sesi training.


Lebih dari sistem pertarungan dan serangkai gadget yang mendukung, aksi Arkham Origins pun masih tak lepas dari paduan dua komponen lain yang ikut mempopulerkan seri ini. Predator Mode kembali memasukkan elemen stealth dimana Batman ditempatkan pada situasi untuk melumpuhkan lawan-lawan yang tersebar dalam suatu ruangan. Seperti sebelumnya, Batman dapat menganalisa situasi dengan menggunakan Detective Mode dan memanfaatkan patung-patung gargoyle (Vantage Points) yang ada di atas ruangan untuk memberi keuntungan secara taktis. Sementara itu, kemampuan Batman sebagai “World’s Greatest Detective” pun ada kalanya akan kembali diuji untuk memecahkan misteri suatu kasus. Pada segmen ini, Batman dapat menganalisa suatu tempat kejadian perkara (TKP) dan menggunakan Detective Mode untuk menemukan petunjuk yang ada. Batman bahkan dapat memproyeksikan suatu rekonstruksi kejadian untuk mendalami kejadiannya lebih jauh. Komposisi gameplay yang tetap menarik sebagai variasi, namun sedikit mengecewakan oleh karena porsi yang terhitung minim dan kurang cukup dipotensikan dengan baik, mengingat porsinya yang seolah terkesan hanya sekedar diadakan.

Melengkapi pengembangan kali ini, Arkham Origins turut mengemas boss battle yang memukau. Beberapa pun cukup mengesankan seperti pada saat ketangkasan Batman diuji menghadapi Deathstroke dan Firefly sebagai momen-momen keren di antaranya. Sayangnya, tidak semua boss telah dikemas dengan intens, mengingat tidak semua assassin menjadi boss battle dengan bobot pertarungan yang sepadan.


Seperti halnya gameplay, aspek grafis pun tampak mereplikasi kembali visualnya pada tampilan teknis Unreal Engine 3 yang menyerupai dua pengembangan terdahulu. Bisa dikatakan demikian lantaran visualisasi yang secara garis besar memang identik, dengan perbedaan yang sebatas terletak pada bagian desain. Untuk menampilkan Batman pada masa-masa awalnya ini, WB Montreal seolah mendapat pengaruh armor berkesan realistis seperti dalam The Dark Knight Trilogy, yang mana dirasakan cukup berbeda dari desain pada dua game sebelumnya. Selebihnya, karakter-karakter dan setting tetap dipresentasikan dengan cukup baik dan mendetil. Sama dengan Arkham Asylum dan Arkham City, desain kostum Batman pun masih akan menampilkan damage seiring progress game-nya. Sementara secara teknisnya, VGI (pribadi) tidak menemukan secara langsung bug dan glitch seperti yang dikeluhkan sebagian komunitasnya, meski permasalahan framerate sesekalinya memang didapati.

Di samping desain karakter yang disesuaikan menurut konsep latarnya, perlakuan yang sama halnya ikut diterapkan untuk kualitas voice acting yang diusungnya. Tak lagi menampilkan duet Batman dan Joker yang disuarakan oleh Kevin Conroy dan Mark Hamill, Arkham Origins menonjolkan voice acting-nya dengan dua nama pengisi suara kawakan, yakni Roger Craig Smith dan Troy Baker, di samping dari hadirnya nama-nama lain yang juga handal dalam menjalankan perannya masing-masing. Sementara dari segi musik, nada-nada orkestral yang memberi kesan epik masih terdengar menghidupkan suasana in-game-nya, dan tidak ketinggalan musik yang mendukung pembawaan nuansa Natal sebagai salah satu detil latarnya.


Menyelesaikan Arkham Origins sekedar pada skenario utamanya memang tidak akan memakan waktu terlalu lama. Sama dengan Arkham City yang lalu, judul ini juga menawarkan durasi lebih lama dengan melakukan tugas-tugas bersifat opsional. Apalagi, terdapat tokoh-tokoh villain yang hanya dapat Batman temui setelah menyelesaikan suatu kondisi tertentu. Di samping adanya fitur collectibles dan misi-misi yang opsional, Challenges masih tersedia untuk menguji ketangguhan gamers sebagai Batman, berikut adanya mode tambahan berupa New Game Plus yang akan terbuka setelah menuntaskan skenario utama, dan diikuti dengan mode I am the Night yang akan menyusul untuk terbuka setelah itu. Pada New Game Plus, skenario utama akan dapat dimainkan dengan progress atribut yang telah diperoleh dan tingkat kesulitan yang lebih menantang. Sementara itu, I am the Night akan menantang gamers untuk menyelesaikannya tanpa gagal sekalipun.

Dan yang baru dalam Arkham Origins juga terletak pada tambahan berupa multiplayer yang kali ini muncul pada franchise-nya. Untuk pertama kalinya, sebanyak delapan pemain akan dipertemukan dalam sebuah mode bersifat kompetitif yang dirancang oleh developer Splash Damage. Dinamakan Invisible Predator Mode, mode ini menampilkan latar perseteruan kubu Bane dan Joker dengan enam pemain yang dibagi dalam keduanya. Namun, di samping kedua tim yang akan berebut kekuasaan, dua pemain lain akan berperan sebagai Batman dan Robin untuk menghalangi para penjahat. Selain itu, ada kalanya pula Bane dan Joker menjadi playable pada sesi ini. Seperti kebanyakan multiplayer saat ini, komponen inipun turut menghadirkan kustomisasi di dalamnya.

Datang dari sebuah tim yang berbeda, Arkham Origins tampak menjadi suatu “jalan aman” yang diambil WB Montreal dalam membawakan persembahan terbaru Batman: Arkham. Game ini menyajikan kembali hal-hal yang pernah disukai fans dari dua judul pendahulunya, walau disayangkan karena belum memaksimalkan potensinya dengan ide yang lebih segar dibanding pengembangan dua tahun lalu. Akan tetapi, fakta tersebut tidaklah mengubah kenyataan Arkham Origins sebagai sebuah game yang tetap keren. Cerita awal mula yang tetap menarik untuk diikuti, combat system yang khas, dan sensasi menjadi sang Dark Knight memang selalu mengesankan.


Baik fans maupun para gamer yang masih baru dengan franchise ini, Batman: Arkham Origins sudah dapat kalian peroleh melalui  (LYR)

VGI Ratings for Batman: Arkham Origins

8.0 Gameplay Replikasi sistematis gameplay dari judul sebelumnya, dengan daya tarik pada segi cerita. Gameplay yang tetap seru, meski belum memaksimalkan potensi yang sebenarnya.
8.0 Graphic Visual yang juga tidak mengalami banyak perbedaan dibanding sebelumnya.
8.5 Sound Kualitas voice acting baru, namun tetap mengesankan. Nuansa yang tematis kembali didukung musik-musik yang pas.
8.5 Longevity Menyediakan misi-misi opsional yang cukup menarik di samping skenario utamanya dan mode-mode yang dapat dimainkan untuk memperpanjang durasi permainan. Untuk kali pertamanya, multiplayer juga menjadi komponen baru yang dapat dicoba.
8.5 Good
Overall

0 komentar :

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys