Senin, 03 September 2012

Home » » [review] Spec Ops The Line

[review] Spec Ops The Line

By
July 13, 2012   ·   4 Comments
 


Sudah bukan rahasia lagi, jika game third person shooter yang hadir di industri game saat ini memang seringkali jatuh pada kesan gameplay yang monoton. Sejak kesuksesan seri Gears of Wars dari Epic Games, beberapa game kompetitor tampaknya mulai kehilangan ide untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda. Mereka terjebak pada mekanisme cover-shoot yang sederhana, menuntut Anda untuk bergerak dari satu titik ke titik lainnya, menghancurkan setiap ancaman yang ada dan memastikan diri untuk tidak tewas selama menjalani proses ini. Sesuatu yang untungnya, tidak menjebak game third person shooter teranyar milik Yager Development dan 2K Games ini.

Anda yang sudah membaca preview kami sebelumnya tentu sudah punya gambaran secara kasar apa yang sebenarnya yang ditawarkan oleh Spec Ops: The Line ini, setidaknya apa yang membuatnya berbeda dibandingkan dengan game-game yang berjalan di genre serupa. Ia menghadirkan kesan pertama yang begitu kuat, terutama lewat jalinan cerita yang solid dan beberapa fitur yang tidak hanya akan membuat adrenalin Anda berpacu kencang, tetapi juga hati nurani dan moral Anda terketuk. Ini tidak hanya soal menghadirkan brutalitas perang dengan visualisasi secara eksplisit, tetapi juga sebuah standar potensi yang mungkin akan membuka mata developer dan publisher yang lain.

Lantas, gameplay apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Spec Ops – The Line ini? Apa yang membuat kami menyebutnya sebagai sebuah game third person shooter yang menggelitik hati nurani?

Plot

Welcome to Dubai!
Dunia post-apocalyptic? Sebagian besar dari Anda tentu menyimpulkan hal ini ketika melihat kondisi kota yang hancur dan berpasir di preview kami sebelumnya. Hal ini tidak sepenuhnya salah, setidaknya bagi masyarakat kota Dubai, Uni Emirat Arab. Salah satu kota paling modern di jazirah Arab ini harus mengalami serangkaian badai pasir terbesar dan terburuk sepanjang sejarah dunia. Tidak dapat dihindarkan lagi, bencana alam membuat kota ini tidak dapat lagi dihuni. Bala bantuan untuk membantu evakuasi penduduk Dubai pun mengalir dari seluruh dunia. Amerika mengirimkan 33rd Battalion yang dipimpin oleh Kolonel John Conrad untuk membantu evakuasi ini. Namun sayangnya, unit pasukan khusus ini menghilang tanpa kabar. Evakuasi pun gagal.

Anda akan berperan sebagai Walker, seorang anggota pasukan khusus Delta Force yang ditugaskan untuk memasuki kota Dubai dan mencari keberadaan Conrad dan pasukan khusus miliknya – 33rd Battalion. Bersama dengan Adams dan Lugo, dua anggota tim Anda yang lain, misi pencarian ini dimulai. Namun ternyata, Dubai mengandung segudang misteri dan ancaman yang membuat misi ini tidak mudah untuk diselesaikan begitu saja. Kondisi Dubai yang tidak lagi memiliki otoritas membuat kelompok-kelompok bersenjata muncul dan menguasai kota berpasir yang satu ini. Sebuah kelompok bersenjata bernama Insurgents lahir dari para penduduk yang berhasil selamat. Tidak hanya itu saja, Walkers ternyata juga menemukan agen-agen rahasia CIA dan anggota-anggota 33rd Battalion dengan agendanya masing-masing di dalam kota ini.

Anda akan berperan sebagai Walker, pemimpin pasukan Delta Force yang ditugaskan untuk mencari Conrad dan pasukan 33rd Battalion
Misteri apa yang sebenarnya sedang menyelimuti Dubai? Konspirasi apa yang terdapat di dalamnya? Siapa Conrad? Mengapa ada CIA di sana?

Apa yang sebenarnya terjadi? Konspirasi seperti apa yang melibatkan para Insurgents, CIA, dan anggota-anggota 33rd Battalion ini? Mampukah Walker, Lugo, dan Adams menemukan Conrad yang hilang? Semua misteri ini tentu dapat Anda pecahkan dengan memainkan game yang satu ini.

Tidak Ada yang Istimewa di Sisi Gameplay

Sebagai sebuah game third person shooter, hampir tidak ada yang istimewa di sisi gameplay Spec Ops: The Line
Seperti layaknya game third person shooter lainnya yang dirilis oleh developer dan publisher yang lain, hampir tidak ada yang berbeda di sisi gameplay Spec Ops: The Line. Ia tetap hadir sebagai sebuah game action yang menuntut Anda untuk menghabisi setiap musuh yang ada dengan berbagai senjata yang disediakan. Cover system juga menjadi satu-satunya mekanisme andalan yang akan membantu Anda menghindari hantaman peluru yang membanjiri posisi Anda. Satu-satunya yang membuatnya berbeda mungkin pada kesan “ simulation” yang cukup kuat di balik gameplaynya yang lebih mengarah pada arcade. Seperti layaknya Ghost Recon: Future Soldier, health dan peluru Anda menjadi sesuatu yang sangat berharga. Beberapa peluru saja sudah cukup untuk menundukkan Anda dan teman Anda, berlaku juga sebaliknya. Peluru juga menjadi sesuatu yang sangat berharga. Oleh karena itu, sebagai seorang pasukan Delta Force, Anda dituntut untuk menggunakan setiap peluru dengan efektif dan efisien.

Selain berperang secara terbuka, Spec Ops: The Line juga menyediakan beberapa efek lingkungan yang tentu akan membantu Anda mengalahkan musuh dalam jumlah besar secara singkat. Sebagian besar efek ini dapat diakses lewat kaca-kaca rapuh yang memuat berton-ton pasir. Memecahkan, menuangkan, dan mengubur musuh-musuh Anda di dalam pasir ini tentu menjadi solusi termudah untuk melewati setiap musuh. Lantas bagaimana jika Anda terkepung dan opsi ini tidak tersedia? Tenang saja, Anda memiliki dua anggota tim yang terhitung cukup cerdas sebagai sebuah AI. Selain secara otomatis bergerak menyerang musuh yang mengancam Anda, Anda juga dapat memerintahkan Lugo dan Adams untuk menembak target yang Anda tentukan dengan satu tombol sederhana. Selain efektif untuk menghilangkan ancaman terbesar, Anda juga dapat menggunakannya secara cover-shot dan menarik perhatian musuh, sehingga Anda bisa melakukan flanking.

Anda bisa memanfaatkan lingkungan sekitar Anda sebagai senjata maut untuk menghancurkan musuh dalam jumlah banyak seketika. Seperti berton-ton pasir ini!
Tenang saja, Anda juga memiliki opsi untuk memerintahkan kedua anak buah Anda – Lugo dan Adams untuk menyerang target yang Anda inginkan.
Musuk sebanyak ini? What the hell..
Salah satu yang dapat diperhatikan dari Spec Ops: The Line adalah tingkat kesulitannya yang terhitung menantang, bahkan untuk tingkat kesulitan normal sekalipun. Apa pasal? Ada dua alasan utama: jumlah musuh harus diakui terlalu banyak (bahkan untuk game sekelas arcade sekalipun) dan sistem cover yang kurang sempurna. Untuk alasan yang pertama, Anda tentu dapat mengerti bagaimana game arcade seringkali menghadirkan sistem yang serupa. Namun Spec Ops: The Line membawanya satu tingkat lebih tinggi. Musuh akan datang dari segala arah, bahkan dari tempat yang tidak dapat Anda kira sebelumnya. Lengah sedikit saja, beberapa peluru akan membuat Anda mengulang dari checkpoint yang cukup jauh. Lantas, bagaimana dengan alasan kedua? Absennya kehadiran satu tombol khusus untuk memicu gerakan cover tampaknya menjadi bumerang yang fatal untuk Spec Ops: The Line ini. Tidak jarang Anda akan secara otomatis masuk ke dalam sistem cover benda terdekat ketika Anda hanya berkeinginan untuk berlari secepat mungkin. Sistem kamera yang cukup kacau juga semakin memperparah efek yang satu ini. Hasilnya? Daripada senjata dan peluru, Anda justru menjadi mangsa yang lebih empuk untuk granat musuh. Tidak jarang ketika Anda berusaha lahir dari cover untuk menghindari ledakan, Anda justru memicu sistem cover otomatis di tempat terdekat. Hasilnya? BOOM! Frustrasi!

Jika tidak ada yang istimewa dari game yang satu ini, mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game third person shooter yang tidak biasa? Mengapa kami mengkategorikannya sebagai sebuah standar genre yang mungkin akan diikuti oleh developer yang lain? Kita akan membahas fitur utama tersebut di bagian selanjutnya.

Pertempuran Penuh Pilihan – Menggelitik Hati Nurani dan Moral?

Pada awalnya, kami cukup skeptis memainkan game yang satu ini. Pada beberapa jam awal permainan, ia menghadirkan mekanisme gameplay yang hampir serupa dengan game-game bergenre sama yang lain, tanpa sesuatu yang unik untuk dinikmati. Namun anggapan ini lantas berubah ketika Anda mulai mencapai titik plot tertentu di permainan. Yager Development dan 2K Games meramu Spec Ops: The Line dengan sesuatu yang mungkin tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya: sebuah pilihan. Namun pilihan ini bukanlah sekedar sebuah pemanis cerita seperti yang pernah ditawarkan oleh game-game serupa di masa lalu. Anda akan dihadapkan pada beberapa pilihan yang akan menuntut Anda untuk mempertimbangkan nilai moral, hati nurani, dan nilai kemanusiaan yang Anda percayai. Hebatnya lagi? Secara real-time!

Tidak hanya memperlihatkan brutalitas perang secara eksplisit, Spec Ops: The Line juga akan memaksa Anda untuk mengambil pilihan-pilihan moral
Di antara kedua orang ini, siapa yang menurut Anda, lebih PANTAS untuk mati?
Terlepas dari brutalitas perang yang ia tawarkan secara eksplisit, pertempuran penuh pilihan ini memang menjadi identitas utama Spec Ops: The Line yang menjadikannya berbeda dengan game third person shooter yang lain. Pilihan seperti apa? Di salah satu bagian cerita, dimana Walker, Lugo, dan Adams terjebak di dalam situasi dimana mereka dihadapkan pada permainan menjadi “hakim” hidup, Anda diharuskan untuk menembak 1  dari 2 orang yang digantung hidup-hidup oleh kaum pemberontak. Satu orang merupakan tentara Amerika yang mengeksekusi 6 orang tidak bersalah tanpa alasan, sementara yang lainnya merupakan seorang konglomerat koruptor yang memeras kaum-kaum kecil, walaupun ia tidak pernah membunuh mereka dengan tangannya sendiri. Siapa yang harus Anda bunuh? Nilai kebenaran seperti apa yang Anda usung? Anda akan menemukan pilihan-pilihan seperti ini di sepanjang permainan. Tidak diragukan lagi, Anda harus menggali dan membongkar nilai-nilai kehidupan, moral, dan bertanya pada hati nurani Anda sebelum Anda menjawab setiap dari “permainan” ini. Lantas seperti apa efek yang Anda temukan jika Anda memilih salah satunya? Anda harus melihatnya sendiri. Anda bahkan memiliki kebebasan untuk menentukan cara bagaimana Anda mengakhir game yang satu ini.

Simak dan Nikmati Plot yang Ditawarkan!

Game third person shooter militer seperti apa yang akan membawa Anda ke “neraka” seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah Anda baru saja melihat diri Anda sendiri? What the..
Selain memperkenalkan sistem pilihan secara real-time yang menjadikannya unik, salah satu aspek lain yang membuat Spec Ops: The Line bersinar adalah kemampuan sang developer untuk menyajikan sebuah cerita yang berbobot. Alih-alih menghadirkan sebuah cerita perang, “kiamat kecil”, pemberontakan, kekerasan, dan kekejaman yang mungkin sudah ditawarkan oleh banyak game serupa, Yager Development menghadirkan sebuah cerita dengan twisted plot yang cukup mengundang decak kagum. Dukungan voice acts dari setiap karakter juga semakin memperkuat kesan yang satu ini. Jika dapat dianalogikan, Spec Ops: The Line ini tidak ubahnya sebuah film perang yang disutradarai oleh M. Night Shymalan yang terkenal lewat Sixth Sense atau The Happening. Anda tidak akan pernah tahu apa yang Anda temui di ujung cerita.

Kesimpulan

Spec Ops: The Line memang tidak menawarkan sisi gameplay yang istimewa, namun ia datang dengan beragam fitur yang membuatnya menarik untuk diikuti.
Sebagai sebuah game third person shooter, Spec Ops: The Line memang tidak menawarkan sesuatu yang berbeda di sisi gameplay. Anda masih akan berhadapan dengan misi utama untuk membunuh setiap musuh yang ada, bergerak dari satu chapter ke chapter lainnya, dan memastikan diri Anda tidak menjadi korban selama menjalani rutinitas ini. Kekuatan utama game ini justru ada pada cerita dan fitur pilihan yang menjadikannya sebagai sebuah game third person shooter yang tidak biasa, sebuah game action, yang untuk pertama kalinya, mampu menggelitik hati nurani kami. Ada berbagai pilihan yang tidak mudah untuk dipilih begitu saja, namun hal inilah yang kemudian menjadikan Spec Ops: The Line sebagai sebuah game yang unik. Tingkat kesulitan yang menantang juga secara konsisten akan membuat adrenalin Anda terpacu, berhati-hati, dan waspada.

Tetapi satu yang pasti, Spec Ops: The Line, walaupun hadir sebagai sebuah game unik, bukanlah game sempurna yang hadir tanpa celah. Kualitas secara visual yang tidak terlalu menonjol, kelemahan sistem cover yang justru lebih sering menimbulkan rasa frustrasi, AI teman yang terkadang tidak responsif, serta jarak checkpoint yang jauh menjadi beberapa poin yang pantas untuk diperhatikan. Walaupun kadang akan membuat Anda kesal, beberapa kekurangan ini masih menjadi sesuatu yang pantas untuk ditoleransi hingga akhir permainan. Gamer mana yang akan menolak sebuah game third person shooter yang datang dengan sebuah konsep baru yang segar? Kelebihan di sisi ini seolah cukup untuk membuat Anda tidak memerhatikan kekurangan yang lain.

Jika Anda termasuk gamer penggemar game third person shooter atau action, maka kami sangat menyarankan Anda untuk memainkan Spec Ops: The Line ini. Tidak untuk menikmati sisi gameplay dasarnya yang tidak istimewa, tetapi untuk merasakan sebuah konsep yang mungkin ditawarkan di industri game untuk pertama kalinya. Sistem seperti ini mungkin saja akan menjadi standar yang akan digunakan oleh game-game dengan genre serupa di masa depan.

Kelebihan

Game third person dengan plot yang twisted? Awesome!
  • Plot yang twisted
  • Setting Dubai dengan badai pasir yang epik
  • Pilihan-pilihan moral di dalam permainan
  • Tingkat kesulitan yang menantang
  • Voice acts
  • Multiple endings

Kekurangan

Visualisasi yang tidak terlalu istimewa
  • Sistem cover yang terkadang akan membuat Anda frustrasi
  • AI teman yang tidak responsif
  • Kualitas grafis
  • Jarak checkpoint yang jauh
  • Jumlah musuh yang terlalu banyak
Cocok untuk gamer: penggemar seri game perang, third person shooter, pencinta film-film dengan twisted plot
Tidak cocok untuk gamer: yang tidak memiliki hati nurani, moral, atau tidak tahan dengan visualisasi brutal yang eksplisit.

sumber : http://jagatplay.com/2012/07/xbox/review-spec-ops-the-line-menggelitik-hati-nurani/

0 komentar :

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys