Rabu, 04 Februari 2015

[gameplay] Saint Row V : Gat Out Of Hell

Jika ingin melihat review dari game ini, silahkan download video di bawah :

REVIEW

 

[review] Saint Row v : Gat Out Of Hell

By Pladidus Santoso
February 4, 2015   ·   
 
Saints Row Gat out of Hell (1)

Entah apa yang terjadi dengan Saints Row. Di masa lalu, ia seringkali disebut sebagai salah satu franchise game open world yang akan mampu menyaingi popularitas Grand Theft Auto dari Rockstar, sang “raja” tanpa tanding yang sudah berkuasa untuk waktu yang cukup lama.  Menawarkan gameplay yang lebih menyenangkan, dengan mekanik daerah kekuasaan yang akan terus mendorong Anda menempuh misi sampingan yang ada, Saints Row terlihat begitu potensial.  Namun semuanya mulai berubah ketika Saints Row 4 tiba. Seperti kehilangan identitas, ia terus mati-matian dicitrakan sebagai game open-world dengan konsep “gila”. Setelah alien dan kemampuan super power, Saints Row kini akan membawa Anda ke neraka.

Konsep baru inilah yang berusaha dijajal Deep Silver dengan Saints Row: Gat out of Hell. Seri yang akan membawa Anda ke Neraka – yang berangkat dari tempat paling menyeramkan menjadi taman bermain super menyenangkan. Beragam screenshot dan trailer yang dirilis Volition selama beberapa bulan terakhir ini memang tidak memperlihatkan peningkatan sama sekali dari sisi visual. Ia tetap dikembangkan dengan menggunakan engine yang sama dengan seri pendahulunya. Sang developer – Volition tampaknya hendak menjual kekuatan franchise yang sama – kegilaan dalam presentasi cerita dan kesempatan untuk melakukan banyak hal keren yang tidak bisa Anda capai di game open-world lainnya.

Pertanyaannya kini, mampukah nilai jual tersebut membuat Saints Row: Gat out of Hell ini tampil berbeda? Lantas, apa yang sebenarnya ia tawarkan? Mengapa kami menyebutnya sebagai franchise yang mulai kehilangan daya tarik? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Saints Row Gat out of Hell sendiri diposisikan sebagai sekuel Saints Row 4, melanjutkan cerita setelah kemenangan atas Alien Zin.
Saints Row Gat out of Hell sendiri diposisikan sebagai sekuel Saints Row 4, melanjutkan cerita setelah kemenangan atas Alien Zin.

Terlepas dari perbedaan tema yang diusung, Saints Row: Gat out of Hell tetap diposisikan sebagai seri kelanjutan langsung dari Saints Row IV, setidaknya dari sisi cerita. Setelah berhasil menghancurkan ras alien – Zin di seri sebelumnya dan menguasai sang kapal utama, kru The Saints sedang bersiap-siap untuk menyelenggarakan hari ulang tahun salah satu anggota mereka – Kinzie. Tanpa alasan yang jelas, mereka tiba-tiba tertarik untuk memainkan Ouija Board – yang memang populer sebagai media untuk menjalin komunikasi dengan dunia roh. Keputusan terburuk yang bisa mereka ambil.

Keisengan untuk menghabiskan waktu dengan Ouija Board di ulang tahun Kenzie berujung malapetaka.
Keisengan untuk menghabiskan waktu dengan Ouija Board di ulang tahun Kenzie berujung malapetaka.
Pemimpin The Saints - The Boss tiba-tiba ditarik ke Neraka.
Pemimpin The Saints – The Boss tiba-tiba ditarik ke Neraka.
Setelah melemparkan sebuah pertanyaan konyol, pemimpin dari The Saints – The Boss tiba-tiba ditarik oleh sang Iblis sendiri ke neraka. Ia dilihat sebagai kandidat yang paling pantas untuk menikahi anak perempuan yang begitu ia sayangi – Jezebel. Anggota The Saints tentu saja tidak tinggal diam. Dua dari mereka – Johnny Gat dan Kinzie memutuskan untuk menyusul The Boss ke neraka, dengan agenda utama untuk membebaskannya dari cengkeraman Iblis. Untungnya, mereka menemukan bantuan di dunia penuh dengan api dan lava ini. Seorang pebisnis dengan kekuatan ekonomi raksasa di Neraka, sekaligus musuh utama sang Iblis – Dane Vogel jadi tulang punggung utama. Johnny dan Kinzie harus berhadapan dengan musuh yang tidak pernah mereka prediksi sebelumnya.

Satan - si Iblis utama Neraka ternyata menginginkan The Boss menjadi suami putri kesayangannya - Jezebel.
Satan – si Iblis utama Neraka ternyata menginginkan The Boss menjadi suami putri kesayangannya – Jezebel.
The Saints tentu tidak tinggal diam. Dua anggota mereka - Johnny dan Kenzie menyusul ke Neraka. Tentu saja, untuk menyelamatkan pemimpin mereka.
The Saints tentu tidak tinggal diam. Dua anggota mereka – Johnny dan Kenzie menyusul ke Neraka. Tentu saja, untuk menyelamatkan pemimpin mereka.
Untungnya, mereka bertemu dengan Vogel - seorang penghuni Neraka yang juga punya ambisi untuk merontokkan kekuatan sang Iblis.
Untungnya, mereka bertemu dengan Vogel – seorang penghuni Neraka yang juga punya ambisi untuk merontokkan kekuatan sang Iblis.

Tentu saja, mereka tidak bisa sekedar masuk ke rumah sang Iblis dan langsung berhadapan dengan kekuatannya yang besar. Vogel menyarankan agar dua Saints ini berjuang untuk mencari dukungan terlebih dahulu dari para tokoh legendaris dunia yang berhasil membangun popularitas di Neraka – seperti Blackbeard, Vlad the Impaler, hingga Shakespeare. Sementara di sisi lain, Jezebel ternyata tidak setuju dengan rencana sang ayah untuk menikahkannya dengan The Boss. Ia memutuskan untuk lari dari rumah dan berusaha mencari Johnny agar mendapatkan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak.

Mampukah mereka menundukkan Neraka?
Mampukah mereka menundukkan Neraka?

Lantas, bagaimana kisah “drama” ini akan berakhir? Mampukah kedua Saints ini menyelamatkan The Boss? Ataukah pernikahan ini memang tidak lagi terhindarkan? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda dapatkan dengan memainkan game yang satu ini.

Daya Tarik yang Memudar

Terlepas dari setting baru yang ditawarkan, mekanik gameplay Saints Row: Gat out of Hell ini tidak banyak berbeda dari seri sebelumnya.
Terlepas dari setting baru yang ditawarkan, mekanik gameplay Saints Row: Gat out of Hell ini tidak banyak berbeda dari seri sebelumnya.
Jika ada satu hal yang bisa ditangkap dari impresi pertama kami terhadap Saints Row: Gat out of Hell, adalah jelasnya usaha Volition untuk terus mempertahankan citra “gila” dari franchise yang satu ini. Ia mungkin akan membawa Anda ke neraka, berhadapan dengan para iblis dan tokoh populer dunia yang terperangkap di siksa abadi ini, namun sayangnya, kegilaan tersebut tidak banyak terasa dari sisi gameplay. Secara garis besar, ia masih menawarkan mekanik gameplay yang serupa dengan Saints Row IV – dimana Anda berperan sebagai seorang superhero. Anda masih mewarisi sebagian besar kekuatan yang sama, dari berlari super cepat, melompat super tinggi, dan hadir dengan efek pukulan yang mematikan. Ada banyak aset di seri sebelumnya yang ditawarkan kembali, memberikan kesan yang kuat bahwa Saints Row: Gat out of Hell adalah sebuah DLC, yang kebetulan, dirilis sebagai standalone. Tidak ada lagi kesempatan menciptakan karakter Anda sendiri. Anda hanya bisa memilih untuk menggunakan Johnny atau Kinzie, yang pada dasarnya, tidak banyak berbeda.

Selamat tinggal untuk kesempatan menciptakan karakter Anda sendiri. Anda hanya bisa menggunakan Johnny atau Kenzie. Anda bisa menukar mereka di dalam permainan, yang pada dasarnya, tidak banyak berbeda satu sama lain.
Selamat tinggal untuk kesempatan menciptakan karakter Anda sendiri. Anda hanya bisa menggunakan Johnny atau Kenzie. Anda bisa menukar mereka di dalam permainan, yang pada dasarnya, tidak banyak berbeda satu sama lain.
Anda masih akan bertempur dengan varian ancaman, yang kini semuanya muncul dari golongan iblis.
Anda masih akan bertempur dengan varian ancaman, yang kini semuanya muncul dari golongan iblis.
Anda masih akan bertempur melawan beragam ancaman, yang kini hadir dalam bentuk varian iblis yang ada. Senjata api dengan desain dan efek gila masih jadi ujung tombak untuk menaklukkan tempat super panas yang satu ini. Tentu saja, Anda masih punya kesempatan untuk memperkuat diri sendiri dan senjata Anda pula, lewat mata uang yang bisa dikumpulkan dari menyelesaikan misi sampingan dan utama yang ada. Anda bisa mempertebal health, memperkuat stamina, hingga meningkatkan jumlah ammo yang bisa dibawa dengan menggunakan upgrade ini. Atau di sisi lain, Anda bisa mengalokasikan dana tersebut untuk memperkuat senjata yang Anda miliki, dari menambah damage, accuracy, hingga memunculkan efek serangan khusus tertentu yang biasanya lebih mahal.

Dengan uang yang ada, Anda bisa memperkuat senjata dan memberikan efek-efek khusus untuknya.
Dengan uang yang ada, Anda bisa memperkuat senjata dan memberikan efek-efek khusus untuknya.
Ukuran map yang terhitung kecil.
Ukuran map yang terhitung kecil.
I've played this before..
I’ve played this before..
Neraka menawarakan ukuran map yang lebih kecil daripada seri Saints Row sebelumnya. Di sinilah, kekurangan Saints Row: Gat out of Hell terlihat jelas. Terlepas dari fakta bahwa Anda masih akan disibukkan dengan usaha untuk mengumpulkan resource demi memperkuat Powers yang Anda miliki, seri ini tidak banyak menawarkan variasi misi sampingan yang menarik. Beberapa bahkan masih menjiplak misi sampingan dari Saints Row 4. Variasi yang tidak banyak ini berpotensi untuk menghasilkan sensasi gameplay repetitif, apalagi jika Anda termasuk gamer yang mudah bosan. Beberapa mungkin melihatnya sebagai kekuatan, sementara lainnya adalah kekurangan, namun bagi kami sendiri – menjadi hal yang positif bahwa tingkat kesulitan yang ditawarkan tidak begitu menantang. Mengapa? Karena dengan kombinasi senjata dan kekuatan yang tepat, Anda bisa menyelesaikan beragam misi sampingan ini dengan cepat, setidaknya tidak membuatnya terlihat seperti beban yang menyita waktu Anda.

Lantas, apa yang membuat Saints Row: Gat out of Hell ini tampil berbeda? Satu-satunya keunikan yang ia tawarkan adalah fakta bahwa Anda kini memiliki sayap dan kemampuan untuk terbang. Dengan efek yang serupa dengan ketika Anda berlari cepat, Anda bisa menggunakan sayap Anda untuk melayang dan terbang di udara sejauh jumlah stamina yang Anda miliki. Anda bisa membuatnya lebih cepat, mengepakkannya sekali lagi untuk ekstra waktu di udara ketika dibutuhkan, hingga membubuhkan kemampuan untuk menghindar ketika serangan anti udara mengincar. Dikombinasikan dengan lari cepat yang ia miliki, kemampuan terbang ini tentu saja memperkuat kemampuan mobilisasi karakter utama Anda yang kini tidak lagi terhalang terrain apapun. Bergerak cepat di sebuah peta yang lebih kecil tentu saja jadi tambahan yang cukup menarik untuk dijajal, di luar fakta bahwa mekanik baru ini juga menawarkan beberapa varian misi sampingan yang baru.

Lantas, apa yang membuat seri ini tampil berbeda? Identitas uniknya muncul dari hadirnya sayap dan kemampuan untuk terbang.
Lantas, apa yang membuat seri ini tampil berbeda? Identitas uniknya muncul dari hadirnya sayap dan kemampuan untuk terbang.
Kontrolnya sendiri sangat mudah untuk dikuasai.
Kontrolnya sendiri sangat mudah untuk dikuasai.
Dipadukan dengan kemampuan berlari super cepat, Anda bisa menjelajahi neraka dengan sangat cepat.
Dipadukan dengan kemampuan berlari super cepat, Anda bisa menjelajahi neraka dengan sangat cepat.
Namun sayangnya, gerak cepat dan bebas ini terhalang satu masalah klasik yang cukup menjengkelkan – kamera. Kamera Saints Row: Gat out of Hell seolah tidak mengakomodasi dengan tepat apa yang Anda inginkan, apalagi misalnya, ketika Anda berlari cepat dan melompat secara tidak sengaja ke gedung terdekat. Kamera tiba-tiba bergerak terlalu maju, Anda berhadapan dengan kamera yang mengarah ke dinding, mengabaikan bahwa Anda butuh informasi lebih jauh kemana Anda harus melangkah selanjutnya. Gerak kamera seperti ini menghasilkan pengalaman yang cukup menyebalkan, apalagi jika Anda tengah diburu waktu.

Hal kedua yang juga unik adalah hadirnya sistem progress cerita yang berbeda. Jika kebanyakan game open world akan melanjutkan cerita bagi Anda begitu Anda berhasil menyelesaikan misi-misi utama tertentu, cerita di Saints Row: Gat out of Hell akan didasarkan pada progress bar yang terpampang di bagian kiri atas layar. Bar ini sendiri merepresentasikan tingkat perhatian dan kemarahan sang Iblis terhadap aksi Johnny dan Kienze. Dengan menempuh beragam misi yang ada, mencari allies, atau sekedar menghancurkan pasukan yang ia miliki, bar ini akan secara lambat tapi pasti, terisi. Begitu mencapai titik tertentu, Anda akan disajikan event khusus yang akan mendorong cerita lebih maju sekaligus menawarkan varian misi ekstra di dalam peta.

Progress cerita akan bergerak jika Anda berhasil mengisi bar di samping kiri atas layar dengan aksi-aksi yang membuat si Iblis jengkel.
Progress cerita akan bergerak jika Anda berhasil mengisi bar di samping kiri atas layar dengan aksi-aksi yang membuat si Iblis jengkel.
Ada banyak aset dari seri sebelumnya yang digunakan kembali di sini.
Ada banyak aset dari seri sebelumnya yang digunakan kembali di sini.
Untuk sebuah judul yang dirilis secara terpisah, Saints Row: Gat out of Hell tidak menawarkan banyak hal baru. Ia tetaplah seri Saints Row yang berusaha mati-matian tampil segila mungkin, dengan desain aksi dan senjata yang akan cukup memuaskan rasa penasaran Anda. Namun di luar itu semua? Terkesan kuat pula ada kemalasan desain di sana. Anda yang sempat memainkan Saints Row 4 sebelumnya akan menemukan banyak hal yang serupa, terutama dari sistem upgrade dan misi sampingan yang bisa ditempuh. Ia tidak terasa seperti sebuah game yang benar-benar baru.

Humor yang Semakin Garing

Humor yang seharusnya jadi kekuatan utama Saints Row justru terasa lemah di seri ini.
Humor yang seharusnya jadi kekuatan utama Saints Row justru terasa lemah di seri ini.
“Gua main Saints Row buat fun dan lucu doank sih”, entah berapa banyak dari Anda yang mungkin seringkali mendengar alasan yang satu ini dikemukakan, setiap kali topik soal minimnya inovasi Saints Row dari dua seri terakhir mengemuka. Sebuah alasan yang sebenarnya sangat rasional, karena ia memang didesain sebagai game open world yang difokuskan untuk bersenang-senang dan tidak lebih. Tidak hanya masalah gameplay, tetapi juga identitasnya yang sudah lama melekat dengan kegilaan-kegilaan ini. Namun sayangnya, Saints Row: Gat out of Hell tidak menawarkan humor sekuat seri pendahulunya.

Gamer mana yang tidak tertawa melihat aksi The Boss di Saints Row 4 yang berusaha menghentikan hulu ledak dengan diiringi lagu populer Aerosmith di belakang? Atau ketika ia ditunjuk sebagai  Presiden dan seketika mampu menyelesaikan salah satu masalah pelik dunia, dengan hanya menandatangani satu dari dua pilihan yang ada? Konsep seperti ini masih mampu menggelitik urat tawa, atau setidaknya sedikit senyuman. Namun sayangnya, kami tidak menemukan hal ini di Saints Row: Gat out of Hell. Ada usaha untuk menciptakan hal unik dengan menawarkan gaya cerita ala film-film musikal Disney di dalamnya. Dimana-mana bagian cerita yang serius tiba-tiba dipresentasikan dengan nyanyian, seperti tengah menonton di opera. Unik memang, namun lucu? Sayangnya tidak.

Menceritakan momen penting dalam bentuk musikal? Meh.
Menceritakan momen penting dalam bentuk musikal? Meh.
Senjata-senjata yang didasarkan pada 7 Deadly Sins juga tidak seunik yang dibayangkan.
Senjata-senjata yang didasarkan pada 7 Deadly Sins juga tidak seunik yang dibayangkan.
Hal ini juga mengakar dari pilihan senjata yang juga tidak lagi sekuat seri sebelumnya. Ketika Saints Row 4 diperkenalkan, semuanya langsung jatuh hati pada Dubstep Gun – yang akan langsung memainkan genre musik elektronik ini sembari memuat semua musuh bergoyang. Atau sekedar senjata sederhana seperti dildo raksasa yang sudah jadi ciri khas. Saints Row: Gat out of Hell? Kami tidak menemukan identitas senjata sekuat hal itu. Tidak ada yang terlihat begitu menarik untuk dikejar dan dijajal, dan semuanya terasa begitu standar. Setidaknya hingga detik terakhir kami menjajal game ini. Volition terasa setengah-setengah mengejakan proyek yang satu ini.

Kesimpulan

Saints Row Gat out of Hell (66)
Saints Row: Gat ouf Hell tampil seperti sebuah bukti nyata, bahwa Volition sebagai developer sendiri seolah kebingungan hendak membawa franchise ini kemana. Mereka berusaha menyuntikkan atmosfer dan kesan game open-world yang lebih gila, dengan konsep yang lebih liar, namun sayangnya, tidak didukung dengan inovasi yang memadai. Terkesan terbangun tergesa-gesa, tidak kreatif, dan tidak banyak berbeda dari sebelumnya, Volition benar-benar punya pekerjaan rumah yang berat. Kami bahkan tidak lagi tertarik untuk mencicipi game ini hingga akhir. Jika arah seperti ini yang terus ditempuh Saints Row, hanya tinggal menunggu waktu, hingga mereka mulai kehilangan ide dan tewas. Kami sendiri lebih mengharapkan satu hal – sebuah proses reboot dengan cita rasa Saints Row 2, itu saja.

Kehilangan daya tarik dengan kesan yang begitu dipaksakan, hal inilah yang mungkin kami tangkap dari Saints Row: Gat out of Hell ini. Secara garis besar, ia memang tetap terasa menyenangkan, apalagi dengan kesempatan untuk menggunakan sayap Anda dan terbang bebas. Setting neraka dan jalinan cerita yang dibangun juga cukup menarik, dimana Anda harus melakukan aksi tertentu untuk menarik perhatian sang Iblis sebelum mampu memicu event cerita selanjutnya. Namun sayangnya, seri ini berhadapan dengan cukup banyak masalah pelik. Masalah yang membuat ia terasa seperti proyek yang dibangun dengan mental “sekedar saja”, tanpa ada usaha untuk menciptakan sebuah seri yang epik dan berbeda.

Inovasi minim membuat Anda yang memainkan Saints Row 4 akan menemukan banyak kesamaan, dari aset, kemampuan, hingga misi sampingan yang bisa Anda tempuh. Sistem kamera yang terkadang menjengkelkan dan glitch yang masih terjadi juga jadi catatan tersendiri. Misi sampingan yang ditawarkan juga mudah terkesan repetitif, di tengah peta yang juga boleh terbilang sangat kecil. Karakter-karakter pendukung seperti Blackbeard dan Vlad terasa seperti sekedar lewat saja, tanpa memainkan porsi yang signifikan untuk mendukung cerita yang ada.

Saints Row: Gat ouf Hell tampil seperti sebuah bukti nyata, bahwa Volition sebagai developer sendiri seolah kebingungan hendak membawa franchise ini kemana. Mereka berusaha menyuntikkan atmosfer dan kesan game open-world yang lebih gila, dengan konsep yang lebih liar, namun sayangnya, tidak didukung dengan inovasi yang memadai. Terkesan terbangun tergesa-gesa, tidak kreatif, dan tidak banyak berbeda dari sebelumnya, Volition benar-benar punya pekerjaan rumah yang berat. Kami bahkan tidak lagi tertarik untuk mencicipi game ini hingga akhir. Jika arah seperti ini yang terus ditempuh Saints Row, hanya tinggal menunggu waktu, hingga mereka mulai kehilangan ide dan tewas. Kami sendiri lebih mengharapkan satu hal – sebuah proses reboot dengan cita rasa Saints Row 2, itu saja.

Kelebihan

Terbang tetap jadi aksi yang menyenangkan.
Terbang tetap jadi aksi yang menyenangkan.
  • Cerita yang berlanjut bergantung pada aksi yang sudah Anda lakukan
  • Kemampuan untuk terbang

Kekurangan

Been there, seen that, done that..
Been there, seen that, done that..
  • Humor yang mulai terasa garing
  • Side mission yang mudah terasa repetitif
  • Banyak aset yang dipakai ulang dari seri sebelumnya
  • Terasa minim inovasi
  • Sistem kamera yang terkadang menjengkelkan
  • Kustomisasi minim
  • Map yang begitu kecil
Cocok untuk gamer: yang sekedar penasaran, atau yang jatuh hati dengan gameplay Saints Row 4
Tidak cocok untuk gamer: yang mengharapkan sesuatu yang baru,
 
 sumber : http://jagatplay.com/2015/02/pc-2/review-saints-row-gat-out-of-hell-tak-lagi-menarik/3/

 

Selasa, 03 Februari 2015

[gameplay] FIFA 15

Jika ingin melihat review dari game ini, silahkan download video di bawah :

REVIEW

 

[review] FIFA 15

By Yossie Dwi P
September 30, 2014   ·   
 
FIFA 15 Intros 

Sepak bola. Olahraga yang satu ini memang punya penggemar segudang di seluruh dunia. Tak peduli usia, tak peduli gender, dan tak peduli dari kalangan apapun, sepak bola seolah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Tidak hanya pertandingan di liga-liga papan atas Eropa di dunia nyata, kebanyakan penggemar sepak bola juga menyukai game simulasi dari olahraga tersebut. Bahkan, meski mengaku bukan seorang gamer, biasanya seorang pencinta bola tetap tak akan menolak saat diajak bermain FIFA atau PES.

Dengan dimulainya musim yang baru, tidak hanya klub sepak bola yang sibuk jual beli pemain dan menyiapkan strategi untuk menyambut pertandingan selanjutnya. Setiap tahunnya baik EA Sports maupun Konami juga berusaha mengembangkan game andalannya untuk memberikan yang terbaik agar gamer bisa merasakan pengalaman game simulasi sepak bola se-realistis mungkin.

Satu yang telah terlihat hasilnya adalah EA Sports melalui FIFA 15. Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tentunya sudah memiliki sedikit gambaran tentang apa saja hal baru yang ditawarkan FIFA 15. Atau mungkin, sudah ada sebagian dari Anda yang telah membeli dan memainkan game ini? Ya, harus diakui, EA Sports memang berhasil menghadirkan berbagai peningkatan yang, beberapa diantaranya, bisa langsung terlihat oleh mata ketika pertama kali mencobanya.

Visual dan Atmosfer Pertandingan yang Lebih Baik

Terlihat lebih sinematik
Terlihat lebih sinematik
FIFA 15 Kick Off 0-0 GER V ITA, 1st Half
Detail pertandingan yang kini terlihat lebih realistis.

FIFA 15 Kick Off 0-0 GER V ITA, 1st Half
Italia!
Ini yang kami sebut peningkatan yang mudah dideteksi oleh mata. Secara visual, EA Sports memang mampu membuat FIFA 15 tampil menjadi game simulasi sepak bola yang memanjakan mata. Seperti yang kami sebutkan di artikel preview, EA memperhatikan hingga hal-hal terkecil demi mewujudkan sebuah atmosfer yang mendekati kenyataan. Sebut saja rumput di lapangan yang nampak detail, bergoyang, dan bahkan bisa rusak seiring kerasnya pertandingan. Singkatnya, bukan lagi sekadar karpet berwarna hijau yang digelar dari satu gawang ke gawang lainnya.

Rumputnya....
Rumputnya….
Penonton yang merupakan salah satu faktor penting untuk mewujudkan suasana layaknya pertandingan sesungguhnya pun turut menjadi fokus pengembangan EA. Baik penampilan maupun reaksi mereka dalam menanggapi jalannya pertandingan cukup beragam, dan eksplosif. Jika Anda bermain sebagai tuan rumah dimana para fans tumpah ruah memenuhi stadion, saat-saat mencetak gol menjadi yang paling membuat adrenaline bergejolak. Apalagi, ketika gol terjadi kamera bergetar seakan-akan akibat teriakan menggelegar dari para penonton.

FIFA 15 Kick Off 0-0 GER V ITA, 1st Half
Pemain memasuki lapangan
Semangat penonton membuat pertandingan semakin membara
Semangat penonton membuat pertandingan semakin membara
Yang lebih menarik, semua tim yang berlaga di Barclays Premier League menawarkan suasana stadion yang otentik dengan yel-yel khas masing-masing tim. Elemen-elemen lainnya pun coba dihadirkan senyata mungkin. Pencahayaan yang lebih baik mampu menggambarkan setting waktu dengan akurat. Siang, sore, atau malam, Anda akan dengan mudah melihat perbedaannya. Beralih ke cuaca, di kala hujan Anda juga bisa melihat percikan air ketika pemain berlari atau menendang bola. Meski begitu, ada kalanya pula efek-efek tersebut muncul di saat yang tidak pas. Anda bisa melihatnya lebih jelas lewat replay.

Nampak rumput-rumput yang terangkat akibat tendangan Rooney. Ini merupakan salah satu bukti EA memperhatikan hingga hal-hal kecil
Nampak rumput-rumput yang terangkat akibat tendangan Rooney. Ini merupakan salah satu bukti EA memperhatikan hingga hal-hal kecil
Percikan air yang muncul ketika pemain berlari di tengah hujan
Percikan air yang muncul ketika pemain berlari di tengah hujan
Seragam pemain bisa kotor
Seragam pemain bisa kotor

Wajah Lebih Mirip!

Satu hal yang selalu dikedepankan dari setiap game sepak bola adalah soal kemiripan wajah antara versi animasi dengan sang superstar sesungguhnya. Ya, untuk urusan yang ini, EA juga berhasil, walaupun memang belum 100 persen. Di saat beberapa bintang sepakbola ternama berhasil ditampilkan dengan baik, seperti Ezequiel Lavezzi (PSG), Wayne Rooney (MU), Cesc Fabregas (Chelsea), Tim Howard (Everton), Daniel Sturridge (Liverpool), dan masih banyak lagi, ternyata tak sedikit pula wajah pemain yang, kalau diperhatikan, jauh dari kata mirip.

FIFA 15 Kick Off (In Menus)
Ezequiel Lavezzi (PSG)
Cesc Fabregas (Chelsea)
Cesc Fabregas (Chelsea)
Bastian Schweinsteiger (Jerman/Bayern Muenchen)
Bastian Schweinsteiger (Jerman/Bayern Muenchen)
Mario Balotelli (Italia/Liverpool)
Mario Balotelli (Italia/Liverpool)
Wayne Rooney (MU)
Wayne Rooney (MU)
Daniel Sturridge (Liverpool)
Daniel Sturridge (Liverpool)
FIFA 15 Kick Off (In Menus)_23
Casillas???
FIFA 15 Intros 2-1 LIV V MCI, 2nd Half_12
Samir Nasri, kan?
Terlepas dari hal itu, EA Sports tergolong sukses dalam memberi semua peningkatan secara visual di FIFA 15. Segala hal yang mereka tampilkan mampu menghadirkan atmosfer pertandingan yang lebih realistis. Sisi baik lainnya, Anda yang berencana memainkan versi PC kini juga akan mencicipi kualitas engine Ignite, yang kami yakin, akan langsung terasa perbedaannya saat pertama kali Anda memainkannya.

Eitttss,, jangan tarik-tarik baju dong…! Melar nih..!!
Eitttss,, jangan tarik-tarik baju dong…! Melar nih..!!

Gameplay: AI Lebih Baik, Tapi (Masih) Butuh Perbaikan!

Kick Off..!!
Kick Off..!!
Apalah artinya visual yang menawan jika secara gameplay FIFA 15 tidak nyaman untuk dimainkan. Well, mengingat di FIFA 14 EA sudah mampu memberikan kualitas gameplay yang bikin gamer betah berlama-lama di depan TV/monitor, kini mereka hanya harus menyempurnakannya. Kualitas AI yang selalu menjadi masalah klasik mengalami perbaikan di sana sini. Contohnya, rekan satu tim yang lebih bisa di ajak bekerjasama, punya inisiatif membuka ruang, dan mencoba menjalankan strategi yang diterapkan oleh gamer. Di sisi lain, tim lawan pun memiliki AI yang patut diacungi jempol dalam menjaga daerah pertahanan hingga ketika melakukan serangan balik setelah berhasil merebut bola dari Anda.

FIFA 15 Kick Off 3-1 INT V MIL, 1st Half 

FIFA 15 Kick Off 3-1 INT V MIL, 1st Half
Dari sudut pandang kiper, stadion terlihat sangat megah!
Namun seperti layaknya game pada umumnya, tak ada AI yang sempurna. Di beberapa kondisi, akan masih akan tetap menemukan gerakan-gerakan yang tidak penting, tabrakan antar pemain, pemain yang terlihat kebingungan, dan beberapa kejadian yang membuat Anda berkata: “Loh, kok malah gitu?!”.

Hah..??
Hah..??
Untuk lebih menghidupkan nuansa pertandingan yang sesungguhnya, di setiap seri FIFA EA Sports tentunya selalu memberi perhatian khusus kepada komentator. Di FIFA 15, hal ini cukup terasa. Komentator tidak hanya membicarakan seputar yang terjadi di lapangan, melainkan juga hal-hal lainnya seperti bagaimana penampilan pemain tertentu di Piala Dunia 2014 lalu. Sayangnya, terkadang komentar-komentar tersebut muncul di saat yang kurang tepat. Contohnya, ketika salah satu tim tengah melakukan serangan ke jantung pertahanan lawan, sang komentator justru membicarakan hal lain yang tak ada hubungannya dengan kejadian di lapangan.

Kedua orang ini masih menjadi duet yang tak tergantikan
Kedua orang ini masih menjadi duet yang tak tergantikan
Terlepas dari itu, Anda tetap bisa merasakan sebuah pertandingan yang dinamis, tidak lambat namun juga tidak terlalu cepat, dan tentunya fun. Gerakan pemain dalam mengontrol bola nampak menawan. Tidak ada gerakan yang terkesan dipaksakan. Dan emosi serta reaksi yang diperlihatkan pemain di lapangan, pemain di bangku cadangan, dan penonton terlihat beragam saat di-tackle keras, mencetak gol, maupun ketika gagal memanfaatkan peluang.

Ekspreksi saat gagal memanfaatkan peluang
Ekspreksi saat gagal memanfaatkan peluang
Kebobolan itu... sakit men...
Kebobolan itu… sakit men…
Efek physics pada seragam pemain menjadi satu hal yang diperhatikan oleh EA
Efek physics pada seragam pemain menjadi satu hal yang diperhatikan oleh EA
Perlu diketahui pula bahwa di FIFA 15 EA memberi perhatian khusus pada penjaga gawang. Intinya adalah, bagaimana membuat sang kiper punya animasi yang menawan saat memblokir bola, dan bagaimana membuat mereka bertindak layaknya seorang penjaga gawang kelas dunia. Untuk yang satu ini, EA bekerjasama dengan kiper Everton, Tim Howard. Hasilnya, next-gen goalkeeper is here, baby..!!

FIFA 15 Kick Off (In Menus)_18
Next-gen Goalkeeper…!!
FIFA 15 FUT Icebreaker (In Menus)_9
Gerakan kiper yang lebih fantastis
FIFA 15 Kick Off 3-1 INT V MIL, 1st Half
WTF….
Tak lengkap rasanya jika membahas tentang gameplay tanpa menyinggung soal online match. Ya, inilah salah satu alasan utama seorang gamer membeli game original: multiplayer online. Fungsi matchmaking berjalan dengan baik. Anda akan dicarikan lawan yang menggunakan tim dengan kekuatan sebanding. Login ke Origin, dan Anda akan menemukan lawan dengan lokasi terdekat. Dengan bermain melawan player lain di region yang sama, lagging akan terminimalisir. Tapi perlu diingat, semua itu kembali ke kualitas ISP Anda.

FIFA 15 (In Menus)_10
Wajib login Origin untuk bisa bermain online
FIFA 15 (In Menus)_11
Fungsi matchmaking membantu menemukan player lain di lokasi terdekat
Pilihan mode permainan di FIFA 15 pada dasarnya tak jauh berbeda dibanding game sebelumnya. Kick off, Tournament, Seasons, Career, Skills Game, Pro Club, dan tentunya FIFA Ultimate Team, semua masih tersedia.

FIFA 15 (In Menus)_2
Mode di FIFA 15 tergolong komplit
FIFA 15 Career (In Menus)
Jadi manager atau pemain?

FIFA Ultimate Team: Kini Bisa Pinjam Pemain

FIFA 15 FUT Hub (In Menus)
Anda bisa memilih satu dari 4 kapten tim ketika memulai FUT
Yap, mode FUT juga menjadi penawaran menarik yang bisa Anda cicipi dengan memainkan versi non-bajakan. Tak banyak perubahan yang terjadi dibandingkan FUT di FIFA 14. Intinya adalah bagaimana Anda membangun sebuah tim dengan chemistry yang kuat dan mampu bersaing di papan atas. Untuk mewujudkan hal itu, Anda diberi kesempatan untuk membeli pemain manapun yang diinginkan. Bagus tidaknya chemistry bergantung pada banyak hal. Misalnya, apakah setiap pemain ditugaskan pada posisi yang seharusnya, komunikasi antar pemain berdasarkan negara asal mereka yang berbeda-beda, serta seberapa lama mereka telah bermain bersama.

FIFA 15 FUT Icebreaker (In Menus)_2
Chemistry, penting untuk menjaga harmonisasi dalam tim
FIFA 15 FUT Hub (In Menus)
Setiap pemain yang Anda pasang menentukan jalannya pertandingan
FIFA 15 FUT Hub (In Menus)_10
Bursa transfer untuk mendapatkan pemain berkualitas
FIFA 15 FUT Hub (In Menus)_7
Pilihan microtransaction
Lalu, bagaimana untuk bisa membeli pemain berkualitas? EA Sports memang menyisipkan microtransaction yang mengharuskan Anda mengeluarkan dana lebih untuk dapat membangun tim yang kuat dengan lebih mudah. Walaupun demikian, di FIFA 15 EA memberi satu solusi yang kami rasa sangat bermanfaat: meminjam pemain untuk jangka waktu tertentu. Menariknya, fungsi ‘loan player’ ini berlaku untuk semua pemain dan gamer punya peluang besar untuk meminjam pemain-pemain mahal, termasuk Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

FIFA 15 FUT Hub (In Menus)

Kesimpulan

FIFA 15 Intros 2-1 LIV V MCI, 2nd Half
Yeay, Liverpool juara..!!
Sebagai sebuah game simulasi sepak bola, FIFA 15 menawarkan banyak hal baru yang membuatnya tampil lebih menarik dibanding game sebelumnya. Kualitas visual menjadi bagian utama yang paling ditonjolkan oleh EA Sports. Walaupun demikian, pihak perusahaan tak lupa untuk terus memberi peningkatan agar mampu menyajikan pengalaman gameplay yang semakin baik. Hasilnya, dua jempol pantas ditujukan ke EA Sports. FIFA 15 terbukti menawarkan atmosfer yang begitu kental dan mampu membuat gamer merasa seperti sedang berada di pertandingan sesungguhnya.

Meski begitu, FIFA 15 bukan tanpa kekurangan. Memang lebih baik, tapi masih jauh dari kata sempurna. AI tetap menjadi masalah utama. Tidak buruk, namun masih ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian dari EA. Komentator pun dibekali dengan kalimat-kalimat baru agar komentar lebih variatif. Sayangnya, obrolan tersebut kerap keluar di saat yang tidak tepat. Terakhir, wajah beberapa pemain yang belum bisa dibilang mirip dengan aslinya tentunya perlu perbaikan lebih lanjut.

Secara keseluruhan, FIFA 15 boleh dibilang sebagai game simulasi sepak bola terbaik yang ada di pasaran saat ini, setidaknya, itu yang bisa disimpulkan sampai si pesaing utamanya, PES 2015, diluncurkan. Anda yang mencintai sepak bola tentu wajib menjadikan FIFA 15 sebagai target belanja. Beli original, dan Anda akan mendapatkan semua konten serta pengalaman gaming secara maksimal.

Kelebihan:

FIFA 15 Kick Off 0-0 MUN V JUV, 1st Half
Stadion yang semakin terlihat otentik
  • Visual yang lebih baik
  • Atmosfer pertandingan yang semakin realistis
  • Highlight pertandingan lebih sinematik
  • Emosi pemain dan penonton dalam menanggapi setiap hal yang terjadi di lapangan
  • Peningkatan AI
  • Lisensi resmi dari hampir semua liga papan atas dunia
  • FUT kini punya fitur Loan Player

Kekurangan:

FIFA 15 Kick Off (In Menus)
Muller?
  • Masih banyak wajah pemain yang tidak mirip
  • Komentator yang terkadang kurang pas
Cocok untuk gamer: Pencinta game sepak bola, fans FIFA.

Tidak cocok untuk gamer: Terlalu fanatik pada PES hingga tidak berniat mencoba game lain

sumber : http://jagatplay.com/2014/09/playstation3/review-fifa-15-selangkah-menuju-kesempurnaan/3/
 
 

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys